Read more: http://tryancouza.blogspot.com/2011/06/membuat-burung-elang-terbang-di-blog-di.html#ixzz2oItuyR4U Sebuah Arti Kehidupan: Arti Sebuah Kehidupan

Rabu, 04 Desember 2013

Arti Sebuah Kehidupan



Wahai saudaraku, sudahkan anda memikirkan makna kehidupan kita di dunia ini? Dari mana asal kita? Siapakah yang menciptakan kita, dan mengapa Dia menciptakan kita? dan kemanakah kita setelah kehidupan dunia ini?
Pertanyaan-pertanyaan ini harus ada didalam benakmu, bahkan didalam benak setiap insan.
Mayoritas manusia tidak berusaha untuk mencari jawaban darinya, sehingga seluruh perhatiannya dalam kehidupan ini tertuju pada makanan, minuman, dan pelampiasan syahwat. Banyak pula dari mereka yang tersesat dari jawaban yang sebenarnya, sehingga dia tidak berjalan ke arah yang benar yang dapat memberi jawaban tersebut. Kedua kelompok ini pada hakekatnya adalah orang- orang yang telah mati yang berjalan di permukaan bumi, sebagaimana halnya Allah Ta’ala -Maha Pencipta- menyifati keadaan mereka :
“… mereka memiliki hati yang tidak mampu memahami, memiliki mata yang tidak dapat melihat, memiliki telinga yang tidak dapat mendengar, mereka seperti hewan ternak, bahkan mereka lebih sesat, mereka itulah orang- orang yang lalai.”
(Al-A’raf:179)
Jika demikian, maka dalam tulisan ini kita berusaha untuk keluar dari kelalaian, agar kita dapat berjalan dalam kehidupan ini diatas hidayah dan cahaya , diatas jalan yang lurus yang telah dijelaskan oleh Allah Azza- Wajalla Pencipta langit dan bumi ini kepada kita, yaitu agama yang Allah Ta’ala tidak menerima sebuah keyakinan apapun dari makhluk-Nya kecuali agama tersebut. Hanya Dia-lah yang akan memberi kepadamu jawaban yang memuaskan atas pertanyaan- pertanyaan ini, sebab hanya agama-Nya yang merupakan agama yang  murni yang datang dari sisi Allah Subhanahu Wa-Ta’ala. Allah berfirman:
“Apakah mereka tercipta secara tiba- tiba tanpa sesuatu, atau apakah mereka menciptakan diri mereka sendiri?”
(QS.At-Thur:35)
Juga firman-Nya:
“(Allah) Rabb kami yang telah menciptakan segala sesuatu lalu Dia-lah yang memberi hidayah.”
(QS.Thaha:50)
Demikian pula firman-Nya:
“Katakanlah: siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi? Dan siapakah yang memberimu pendengaran dan penglihatan, siapakah yang mengeuarkan yang hidup dari kematian, dan mengeluarkan yang mati dari kehidupan, dan siapakah yang mengurus seluruh perkara (dijagad raya)?, Maka niscaya mereka pasti mengatakan: Allah, lalu katakanlah: tidakkah kalian bertakwa?”
(Yunus: 31)
Dengan penjelasan ini, Al-Qur’an telah menjawab pertanyaan pertama: dari mana asal kita? Dan siapakah yang menciptakan kita?
Pada hakekatnya, seorang manusia tidak mungkin dapat menghindar dari keyakinan ini, sebab kaum musyrikin pun tidak mampu menghindar dari jawaban bahwa Allah Ta’ala sebagai penciptanya. Namun apakah sekedar meyakini hal ini sudah cukup ? tentu tidak, sebab Allah Azza Wajalla berfirman :
“..dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.”
(Adz-Dzariyat:56)
Jika engkau telah mengetahui bahwa Allah semata sebagai pencipta, yang mengurusi seluruh jagad raya, yang menghidupkan, yang mematikan, dan kekuasaan yang sempurna bagi setiap apa yang ada di alam ini, maka pernyataan ini haruslah memberi pengaruh pada dirimu dengan menjadikan ibadah yang benar hanya untuk Allah Ta’ala, tiada sekutu bagi-Nya dalam hal apapun.
Karena tujuan ibadah inilah ditegakkannya langit dan bumi, dan karena tujuan inilah kita diciptakan di alam ini, dan karena hal inilah para rasul diutus, dan kitab- kitab suci diturunkan, lalu setelah itu diadakanlah proses hisab, pahala dan dosa, lalu setelah itu surga dan neraka.
Apakah setelah kita mengetahui tujuan hidup ini, berarti seluruh waktu kita hanya diluangkan di masjid untuk melakukan ruku dan sujud? Lalu membiarkan manusia dengan berbagai aktifitas kehidupannya?
Pemahaman Yang Benar Tentang Ibadah
Ini bukanlah pemahaman yang benar tentang makna ibadah, namun yang dimaksud ibadah adalah mengerjakan setiap apa saja yang dicintai Allah Azza Wajalla dan diridhai-Nya, dan meninggalkan apa saja yang dilarang-Nya, sehingga apa yang kamu pelajari, yang kamu amalkan, ketika engkau berada di rumah, di jalan, atau di masjid, dan hubunganmu dengan sesama manusia, engkau senantiasa mengharapkan wajah Allah dan mengikuti bimbingan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Dengan kedua syarat ini (ikhlas dan mengikuti bimbingan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam,pen), seluruh aktifitas kehidupanmu akan bernilai ibadah karena Allah .
Maka yang dimaksud ibadah adalah bentuk ketaatan kepada-Nya, ketundukan, dan sikap berserah diri terhadap perintah- perintah Allah, seperti shalat, puasa, haji dan zakat, demikian pula rasa cinta, takut, berharap, ikhlas hanya untuk Allah semata, demikian pula bersyukur, bersabar, ridha dan rindu hanya kepada Allah Ta’ala, demikian pula berdoa, merendahkan dan menghinakan diri , serta khusyu’ kepada Allah Azza Wajalla semata, memakan yang halal dan meninggalkan yang haram, berbakti kepada kedua orang tua, berakhlak yang baik, menghormati orang yang lebih tua, mengasihi orang yang lebih muda dan orang miskin, tersenyum pada wajah saudaramu muslim, jujur dalam berucap, menepati janji, menunaikan amanah, meninggalkan perbuatan menipu, menjauhi riba dan suap serta seluruh perkara yang diharamkan, menundukkan pandangan, memelihara kemaluan, berhijab dan menjaga kehormatan diri, menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar, berdakwah menuju jalan Allah dan berjihad dijalan Allah. Allah Ta’ala berfirman:
“Katakanlah : sesunguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dan yang demikianlah aku diperintahkan, dan aku orang yang pertama berserah diri.”
(QS. Al-An’am:162-163)
Dan firman-Nya :
“Barangsiapa yang mengingkari thagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh ia telah berpegang dengan tali yang kokoh.”
(QS. Al-Baqarah:256)
Tidak akan sempurna ibadah seseorang hingga ia mengingkari thagut sebagaimana yang diberitakan Allah Subahanahu WaTa’ala, dengan inilah Allah mengutus seluruh para rasul:
“”Sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat seorang rasul untuk berseru: sembahlah hanya kepada Allah dan jauhilah thagut.”
(QS.A-Nahl:36)
Yang dimaksud thagut adalah setiap yang melampaui batasannya sebagai hamba lalu menisbatkan kepada dirinya satu hak atau sifat yang tidak berhak dimiliki kecuali Allah Ta’ala. Setan adalah pemimpin para thagut yang mengajak manusia untuk beribadah kepada selain Allah dan taat kepada selain-Nya. Allah Ta’ala berfirman:
“Bukankah Aku telah perintahkan kepada kalian wahai anak cucu Adam agar jangan kalian menyembah setan, sesungguhnya ia adalah musuh yang nyata bagimu.”
(QS.Yasin: 10)
Beribadah kepada setan adalah taat kepada apa yang diperintahkannya berupa kekufuran kepada Allah Ta’ala.
Termasuk thagut adalah setiap yang diikuti, atau ditaati, atau yang menetapkan hukum tidak diatas petunjuk dari Allah dan syariat-Nya. Demikian pula setiap yang menganggap dirinya mengetahui urusan gaib seperti para tukang ramal, ahli nujum dan para dukun.
Allah berfirman:
“Katakanlah: tidak ada yang mengetahui perkara gaib yang ada di langit dan d bumi melainkan Allah.”
(QS.An-Naml:65)
Demikian pula orang yang menyangka dirinya mampu mendatangkan manfaat dan mudarat dari selain Allah.
Makna mengingkari thagut adalah engkau meyakini dengan hatimu tentang kebatilan menyembah para thagut tersebut, dan kebatilan apa yang mereka sandarkan kepada diri- diri mereka dari hak- hak Allah , lalu engkau menjadikan Rabb-mu semata yang disembah. Lalu engkau berupaya untuk menghilangkan bentuk ibadah kepada para thagut tersebut dengan segala upaya.

1 komentar:

  1. Belajar bukan hanya diperuntukkan bagi pelajar atau mahasiswa saja. Karena setiap manusia, baik tua ataupun muda juga wajib belajar.

    BalasHapus