Read more: http://tryancouza.blogspot.com/2011/06/membuat-burung-elang-terbang-di-blog-di.html#ixzz2oItuyR4U Sebuah Arti Kehidupan: Desember 2013

Jumat, 20 Desember 2013

IPTEK DALAM PANDANGAN ISLAM



Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) menurut pandangan Al-Qur’an  mengundang kita untuk menengok sekian banyak ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang alam raya. Menurut ulama terdapat 750 ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang alam beserta fenomenanya dan memerintahkan manusia untuk mengetahui dan memanfaatkannya. Allah SWT berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 31 yang artinya :“Dan dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian diperintahkan kepada malaikat-malaikat, seraya berfirman “Sebutkan kepadaku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar”. Dari ayat di atas yang dimaksud nama-nama adalah sifat, ciri, dan hukum sesuatu. Ini berarti manusia berpotensi mengetahui rahasia alam semesta. Adanya potensi tersebut, dan tersedianya lahan yang diciptakan Allah, serta ketidakmampuan alam untuk membangkang pada perintah dan hukum-hukum Tuhan, menjadikan ilmuwan dapat memperoleh kepastian mengenai hukum-hukum alam. Karenanya, semua itu menghantarkan pada manusia berpotensi untuk memanfaatkan alam itu merupakan buah dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Al-Qur’an memerintahkan manusia untuk terus berupaya meningkatkan kemampuan ilmiahnya. Jangankan manusia biasa, Rasul Allah Muhammad SAW pun diperintahkan agar berusaha dan berdoa agar selalu ditambah pengetahuannya  (QS Yusuf : 72).
Hal ini dapat menjadi pemicu manusia untuk terus mengembangkan teknologi dengan memanfaatkan anugerah Allah yang dilimpahkan kepadanya. Karena itu, laju IPTEK memang tidak dapat dibendung, hanya saja mabusia dapat berusaha mengarahkan diri agar tidak diperturutkan nafsunya untuk mengumpulkan harta dan IPTEK yang dapat membahayakan dirinya dan yang lainnya.
Berkenaan dengan masalah dan teknologi, kita pernah pasti pernah mendengar bahwa ada orang-orang yang berangapan bahwa kerusakan dunia saat ini yaitu terjadinya perang, moral bejat, akhlak ambruk, dll adalah disebabkan oleh teknologi. Maka dari itu teknologi harus dijauhi.
Di samping itu, ada juga orang yang mengatakan bahwa tanpa adanya sains dan teknologi maka tidak mungkin peradaban manusia terjadi seperti saat ini. Adanya alat transportasi yang cepat, bisa berkomunikasi dengan siapapun di dunia ini, dll adalah hasil sains dan teknologi. Tanpa teknologi hidup pasti sulit, maka teknologi itu penting dan adapun kerusakan yang ditimbulkan itu karena manusianya yang tidak bisa menggunakannya.
Kemudian muncul dalam pikiran kita suatu pertanyaan “lantas bagaimana mendudukan teknologi yang benar dalam hidup ini?”.
Dalam pandangan kapitalisme (ideologi Indonesia saat ini) teknologi merupakan suatu sarana untuk menggapai kebahagiaan dan kepuasan dunia semata. Karena kapitalisme berpandangan bahwa hidup itu hanya untuk materi yaitu mencari kesenangan sebesar-besarnya. Begitupun sosislisme (ideologi Indonesia saat orde lama) mereka juga berpandangan bahwa hidup itu harus dinikmati dengan cara hidup bersenang-senang apapun caranya yang penting senang. Dengan kata lain, keduanya mengejar manfaat atau manfaat menjadi standar kehidupannya.
Maka tidak heran jika mahasiswa saat ini berpikiran kerja, kerja, kerja, uang, uang, uang, dll. Itu karena mindset yang ada pada dirinya adalah mindset kapitalis atau sosialis.
Saat ini sangat sedikit sekali mahasiswa yang memiliki pemikiran Islam yang benar. Kebanyakan seperti yang di atas. Maka jangan aneh ketika mereka menggunakan, berargumen, berpendapat, dll tentang sains dan teknologi pasti ujung-ujungnya adalah kesenangan untuk dirinya. Ini jelas pemahaman yang sangat keliru.
Dengan demikian, bisa kita ketahui bahwa pandangan kapitalisme dan sosialisme dalam hal sains dan teknologi adalah salah. Maka pandangan siapakah yang benar? Jawabannya Islam. Inilah yang dilupakan mahasiswa, mereka tidak bisa berpikir islami, padahal seseorang dikatakan memiliki kepribadian islam ketika pola pikir dan pola sikapnya islami.
Dalam islam, sains dan teknologi sangat penting untuk membangun peradaban yang kuat dan tangguh. Sebagaimana halnya dahulu para khalifah mendorong kaum muslim untuk mencipatakan teknologi dan membuat karya ilmiah guna mengembangkan dan memanfaatkan SDA yang ada. Seperti kita ketahui para ilmuwan islam seperti al-Khawarizmi ahli matematika, Ibnu Firnas konseptor pesawat terbang, Jabir bin Haiyan bapak kimia, dan masih banyak lagi. Mereka semuanya mengerahkan segenap upaya dan berkarya untuk umat. Jadi, Islam tidak pernah melarang sains dan teknologi, tetapi justru Islam selalu terdepan dalam sains dan teknologi sejak 13 abad yang lalu.
Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda:
“Kalian lebih tahu urusan dunia kalian”
Hadits ini menunjukkan kebolehan mengenai sains dan teknologi karena pada saat itu Rasulullah SAW ditanya oleh seseorang tentang pertanian, tapi Rasulullah tidak memberikan jawaban yang benar karena Rasulullah tidak ahli dalam pertanian.
Maka dari itu, sains dan teknologi merupakan madaniyah ‘am yaitu benda yang tidak ada sangkut pautnya dengan hadlarah. Sebagaimana Imam Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitabnya Nizhamul Islam menyebutkan bahwa “Sedangkan bentuk-bentuk madaniyah yang menjadi produk kemajuan sains dan perkembangan teknologi/industri tergolong madaniyah yang bersifat umum, milik seluruh umat manusia”.  Madaniyah itu sendiri merupakan merupakan bentu-bentuk fisik berupa benda-benda yang terindera dan digunakan dalam kehidupan yang meliputi seluruh aktivitas kehidupan.
Maka dengan hal ini jelaslah sudah bahwa produk dari sains dan teknologi dalam pandangan Islam boleh/mubah. Tetapi ingat bahwasannya ada juga madaniyah yang bersifat khas seperti patung, salib, bintang david, dll itu merupakan karya/hasil dari hadlarah selain Islam, maka menggunakannya adalah suatu kemaksiatan dan hukumnya haram.
Perlu kita ketahui bahwa hadlarah merupakan sekumpulan ide/pemahaman akan kehidupan. Setiap ideologi memiliki perbedaan hadlarah. Barat misalnya, tujuan  kehidupan bagi mereka adalah mencari kesenangan dengan jalan mencari manfaat sebesar-besarnya, sedangkan Islam bertujuan untuk menggapai ridla Allah SWT dan standarnya adalah halal-haram. Artinya penggunaan sains dan teknologi dalam Islam adalah untuk menggapai ridla Allah SWT.
Kesimpulannya adalah Islam memandang bahwa benda-benda hasil sains dan teknologi adalah mubah. Siapapun boleh mengambilnya dan menggunakannya. Dalam penggunaannya tentu berbeda anatara orang yang berpikiran Islam dengan orang yang berpikiran kapitalis atau sosialis. Maka tinggal kita pilih kacamata mana yang benar untuk memandang dan menghukumi berbagai macam fakta. Islam? Kapitalis? Atau sosialis? Hidup adalah pilihan maka pilihlah pilihan yang terbaik karena kita akan dipertnggung jawabkan di akhirat kelak.
Dengan demikian, tuntaslah sudah permasalahan atau perbedaan pendapat dalam hal sains dan teknologi. Terbukti bahwa Islam dapat menjawab persoalan ini karena Islam merupakan problem solving dalam hidup ini. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish shawab 

Rabu, 04 Desember 2013

Arti Sebuah Kehidupan



Wahai saudaraku, sudahkan anda memikirkan makna kehidupan kita di dunia ini? Dari mana asal kita? Siapakah yang menciptakan kita, dan mengapa Dia menciptakan kita? dan kemanakah kita setelah kehidupan dunia ini?
Pertanyaan-pertanyaan ini harus ada didalam benakmu, bahkan didalam benak setiap insan.
Mayoritas manusia tidak berusaha untuk mencari jawaban darinya, sehingga seluruh perhatiannya dalam kehidupan ini tertuju pada makanan, minuman, dan pelampiasan syahwat. Banyak pula dari mereka yang tersesat dari jawaban yang sebenarnya, sehingga dia tidak berjalan ke arah yang benar yang dapat memberi jawaban tersebut. Kedua kelompok ini pada hakekatnya adalah orang- orang yang telah mati yang berjalan di permukaan bumi, sebagaimana halnya Allah Ta’ala -Maha Pencipta- menyifati keadaan mereka :
“… mereka memiliki hati yang tidak mampu memahami, memiliki mata yang tidak dapat melihat, memiliki telinga yang tidak dapat mendengar, mereka seperti hewan ternak, bahkan mereka lebih sesat, mereka itulah orang- orang yang lalai.”
(Al-A’raf:179)
Jika demikian, maka dalam tulisan ini kita berusaha untuk keluar dari kelalaian, agar kita dapat berjalan dalam kehidupan ini diatas hidayah dan cahaya , diatas jalan yang lurus yang telah dijelaskan oleh Allah Azza- Wajalla Pencipta langit dan bumi ini kepada kita, yaitu agama yang Allah Ta’ala tidak menerima sebuah keyakinan apapun dari makhluk-Nya kecuali agama tersebut. Hanya Dia-lah yang akan memberi kepadamu jawaban yang memuaskan atas pertanyaan- pertanyaan ini, sebab hanya agama-Nya yang merupakan agama yang  murni yang datang dari sisi Allah Subhanahu Wa-Ta’ala. Allah berfirman:
“Apakah mereka tercipta secara tiba- tiba tanpa sesuatu, atau apakah mereka menciptakan diri mereka sendiri?”
(QS.At-Thur:35)
Juga firman-Nya:
“(Allah) Rabb kami yang telah menciptakan segala sesuatu lalu Dia-lah yang memberi hidayah.”
(QS.Thaha:50)
Demikian pula firman-Nya:
“Katakanlah: siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi? Dan siapakah yang memberimu pendengaran dan penglihatan, siapakah yang mengeuarkan yang hidup dari kematian, dan mengeluarkan yang mati dari kehidupan, dan siapakah yang mengurus seluruh perkara (dijagad raya)?, Maka niscaya mereka pasti mengatakan: Allah, lalu katakanlah: tidakkah kalian bertakwa?”
(Yunus: 31)
Dengan penjelasan ini, Al-Qur’an telah menjawab pertanyaan pertama: dari mana asal kita? Dan siapakah yang menciptakan kita?
Pada hakekatnya, seorang manusia tidak mungkin dapat menghindar dari keyakinan ini, sebab kaum musyrikin pun tidak mampu menghindar dari jawaban bahwa Allah Ta’ala sebagai penciptanya. Namun apakah sekedar meyakini hal ini sudah cukup ? tentu tidak, sebab Allah Azza Wajalla berfirman :
“..dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.”
(Adz-Dzariyat:56)
Jika engkau telah mengetahui bahwa Allah semata sebagai pencipta, yang mengurusi seluruh jagad raya, yang menghidupkan, yang mematikan, dan kekuasaan yang sempurna bagi setiap apa yang ada di alam ini, maka pernyataan ini haruslah memberi pengaruh pada dirimu dengan menjadikan ibadah yang benar hanya untuk Allah Ta’ala, tiada sekutu bagi-Nya dalam hal apapun.
Karena tujuan ibadah inilah ditegakkannya langit dan bumi, dan karena tujuan inilah kita diciptakan di alam ini, dan karena hal inilah para rasul diutus, dan kitab- kitab suci diturunkan, lalu setelah itu diadakanlah proses hisab, pahala dan dosa, lalu setelah itu surga dan neraka.
Apakah setelah kita mengetahui tujuan hidup ini, berarti seluruh waktu kita hanya diluangkan di masjid untuk melakukan ruku dan sujud? Lalu membiarkan manusia dengan berbagai aktifitas kehidupannya?
Pemahaman Yang Benar Tentang Ibadah
Ini bukanlah pemahaman yang benar tentang makna ibadah, namun yang dimaksud ibadah adalah mengerjakan setiap apa saja yang dicintai Allah Azza Wajalla dan diridhai-Nya, dan meninggalkan apa saja yang dilarang-Nya, sehingga apa yang kamu pelajari, yang kamu amalkan, ketika engkau berada di rumah, di jalan, atau di masjid, dan hubunganmu dengan sesama manusia, engkau senantiasa mengharapkan wajah Allah dan mengikuti bimbingan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Dengan kedua syarat ini (ikhlas dan mengikuti bimbingan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam,pen), seluruh aktifitas kehidupanmu akan bernilai ibadah karena Allah .
Maka yang dimaksud ibadah adalah bentuk ketaatan kepada-Nya, ketundukan, dan sikap berserah diri terhadap perintah- perintah Allah, seperti shalat, puasa, haji dan zakat, demikian pula rasa cinta, takut, berharap, ikhlas hanya untuk Allah semata, demikian pula bersyukur, bersabar, ridha dan rindu hanya kepada Allah Ta’ala, demikian pula berdoa, merendahkan dan menghinakan diri , serta khusyu’ kepada Allah Azza Wajalla semata, memakan yang halal dan meninggalkan yang haram, berbakti kepada kedua orang tua, berakhlak yang baik, menghormati orang yang lebih tua, mengasihi orang yang lebih muda dan orang miskin, tersenyum pada wajah saudaramu muslim, jujur dalam berucap, menepati janji, menunaikan amanah, meninggalkan perbuatan menipu, menjauhi riba dan suap serta seluruh perkara yang diharamkan, menundukkan pandangan, memelihara kemaluan, berhijab dan menjaga kehormatan diri, menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar, berdakwah menuju jalan Allah dan berjihad dijalan Allah. Allah Ta’ala berfirman:
“Katakanlah : sesunguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dan yang demikianlah aku diperintahkan, dan aku orang yang pertama berserah diri.”
(QS. Al-An’am:162-163)
Dan firman-Nya :
“Barangsiapa yang mengingkari thagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh ia telah berpegang dengan tali yang kokoh.”
(QS. Al-Baqarah:256)
Tidak akan sempurna ibadah seseorang hingga ia mengingkari thagut sebagaimana yang diberitakan Allah Subahanahu WaTa’ala, dengan inilah Allah mengutus seluruh para rasul:
“”Sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat seorang rasul untuk berseru: sembahlah hanya kepada Allah dan jauhilah thagut.”
(QS.A-Nahl:36)
Yang dimaksud thagut adalah setiap yang melampaui batasannya sebagai hamba lalu menisbatkan kepada dirinya satu hak atau sifat yang tidak berhak dimiliki kecuali Allah Ta’ala. Setan adalah pemimpin para thagut yang mengajak manusia untuk beribadah kepada selain Allah dan taat kepada selain-Nya. Allah Ta’ala berfirman:
“Bukankah Aku telah perintahkan kepada kalian wahai anak cucu Adam agar jangan kalian menyembah setan, sesungguhnya ia adalah musuh yang nyata bagimu.”
(QS.Yasin: 10)
Beribadah kepada setan adalah taat kepada apa yang diperintahkannya berupa kekufuran kepada Allah Ta’ala.
Termasuk thagut adalah setiap yang diikuti, atau ditaati, atau yang menetapkan hukum tidak diatas petunjuk dari Allah dan syariat-Nya. Demikian pula setiap yang menganggap dirinya mengetahui urusan gaib seperti para tukang ramal, ahli nujum dan para dukun.
Allah berfirman:
“Katakanlah: tidak ada yang mengetahui perkara gaib yang ada di langit dan d bumi melainkan Allah.”
(QS.An-Naml:65)
Demikian pula orang yang menyangka dirinya mampu mendatangkan manfaat dan mudarat dari selain Allah.
Makna mengingkari thagut adalah engkau meyakini dengan hatimu tentang kebatilan menyembah para thagut tersebut, dan kebatilan apa yang mereka sandarkan kepada diri- diri mereka dari hak- hak Allah , lalu engkau menjadikan Rabb-mu semata yang disembah. Lalu engkau berupaya untuk menghilangkan bentuk ibadah kepada para thagut tersebut dengan segala upaya.